Peluncuran Album Sastra Kalimalang

KETIKA KATA MENJADI KITA
:Jangan Biarkan Ibu Pertiwi Menangis  (‘!’)

Oleh Irman Syah *)

Sastra Kalimalang:
Ketika segala sesuatu sulit untuk diucapkan secara nyata, karena bisa menyinggung personal dan kelompok manusia, maka sastralah yang mampu membahasakannya dengan gamblang dan tertata. Persoalan bahasa dan hakikat makna inilah yang menjadikannya sungai yang mengalir dalam jiwa. Dalam kelembutan ucapan, dalam pemaknaan tafsiran, semua terungkap jadi pertanda, jadi pelita, jadi penerang kenyataan kehidupan.
BACA SELENGKAPNYA

Jangan Biarkan Ibu Pertiwi Menangis (‘!’) .

(Album Sastra Kalimalang Akustik)
Oleh Irman Syah

“Hidup telah mengajarkan jalannya sendiri-sendiri bagi manusia.” Demikianlah petuah dan ungkapan, atau pandangan lirik di ‘rohmantik’ perihal landasan ‘estetika kehidupan’. Tentang bagaimana memposisikan sikap dalam mencipta ketepatan. Menafasi perilaku hidup manusia hari ini dalam lalu-lintas kehidupan dan segala hal lain sebagaimana mestinya. 
BACA SELENGKAPNYA

Selepas Musim Berbilang Tahun

Oleh Irman Syah

Apa yang bisa kau rangkai jika kilat dan petir sambung menyambung. Terang dan dentuman ganti berganti, muram dan gelap muncul di hati. Apa? Tentu saja tak ada selain kata. Selebihnya rasa dan pikir yang saling bersabung dan bertarung, bagai pelayaran dan lautan lepas, asin dan ombak tetap saja permainan ikan.
BACA SELENGKAPNYA

Kematian Pemuda di Siklus Zaman

Oleh Irman Syah

“Jauh panggang dari api.” Demikian barangkali kata yang tepat untuk menyatakan ungkapan terhadap pemuda, peran dan fungsinya terhadap keadaan yang terjadi saat ini. Apalagi dalam hal menyikapi kenyataan hidup masyarakat yang dihantam oleh persoalan ekonomi, politik, birokrasi, dan kebudayaan di negeri ini. 
BACA SELENGKAPNYA

Salah di Ujung, Balik ke Pangkal

Oleh Irman Syah

Jauh sudah perjalanan negeri dalam kelok liku kehidupan. Beragam pula persoalan yang tumbuh dan menggejala sehigga hidup menjadi kumpulan perasaan, pikiran dan ingatan: berurat-menjalarlah kenyataan yang memunculkan penyesalan ulah niat dan arah tujuan yang jalan bersimpangan.
BACA SELENGKAPNYA

'Sastra Santri'


Oleh Irman Syah

Setelah balik ke Jakarta dari kampung halaman, di Magek  Bukittinggi, aku kembali beraktivitas  di Sastra Kalimalang yang berlokasi di bantaran Pinggir Kalimalang, samping kampus Unisma (Universitas Islam 45) Jl. Cut Meutia Bekasi. Ya, sebuah kampus tertua yang masih bertahan di tengah  maraknya suasana dan bisnis pendidikan dewasa ini. Ayo berkarya!
BACA SELENGKAPNYA

Puisi & Hakikat Keistimewaan

Oleh Irman Syah

Ketika seseorang menyebutkan kata puisi, maka yang pertama sekali melintas ke permukaan adalah rangkaian kalimat-kalimat dengan kata-kata yang indah dan menarik serta diikat oleh bait-baitnya. Secara umum pandangan ini tidaklah salah karena memang demikianlah puisi bagi orang yang baru terlibat apresiasi. Hanya saja, puisi tentulah tidak sesimpel itu, baik dalam format dan kandungannya.
BACA SELENGKAPNYA

Kebhinnekaan Puisi dalam Festival Musikalisasi

(Catatan Festival di Hari Puisi Indonesia)
Oleh Irman Syah

Musikalisasi Puisi:

MEMBICARAKAN Muskalisasi Puisi Indonesia dalam tahapan apresiasi dan selanjutnya menjadi pilihan profesi tentulah sebuah wacana yang luar biasa. Banyak kandungan persoalan dan makna yang tak terduga di dalamnya. Walau pun begitu, tidak banyak pula orang yang mampu mengungkapkannya dari mulai proses sampai teciptanya karya musikalisasi puisi itu dalam sebuah pertujukan yang standard.
BACA SELENGKAPNYA

Mempertanyakan Hakikat Kaum Intelektual

Oleh Irman Syah

Sebuah peristiwa bersejarah dalam perjalanan Bangsa dan Negara Indonesia pada  pertengahan Mei 1998 adalah catatan yang sangat melambungkan Kampus sebagai masyarakat ilmiah yang memicu dan penggebrak perubahan bagi negeri ini. Maka, setelah itu bermunculanlah rasa dan anggapan serta pujian bahwa mahasiswa adalah sebuah kekuatan yang sangat dibutuhkan dalam meujudkan kehidupan rakyat yang damai dan sejahtera dalam segala lini kegidupan.
BACA SELENGKAPNYA

Maklumat Kebahasaan

Oleh Irman Syah

SETELAH menyimak bahasa dan prilaku dalam keseharian hidup manusia Indonesia yang begitu rapi membahasakan kepentingan melalui kemasan dan mengatas-namakan kehidupan yang lebih baik bagi rakyatnya, maka banyak hal yang dengan begitu saja hilang dalam diri. Akar dan nilai kebudayaan tidak lagi muncul mengedepan. Masing-masing kubu telah menuturkan hal-hal penting atas nama kebutuhan, keinginan, dan kedamaian bagi rakyatnya. Dan ini dibahasakan pula dengan verbal dan dijelas-jelaskan. Padahal, keperluannya cuma satu, tak lain: tampuk kekuasaan.
BACA SELENGKAPNYA