Bermain di Ranting-Ranting

Oleh Irman Syah

Bagaikan sebatang pohon di sebuah lahan yang subur, sejarah dan kenyataan mencerminkan dirinya dengan leluasa. Kerimbunan daun dengan banyaknya ranting yang bertunas memaksa akar untuk melahirkan buah. Ya, semacam pipa kapiler yang mempertemukan tanah dan air yang bergerak transenden untuk bertemu suara burung, awan, mendung, bulan dan bintang pada sebuah kanvas di langit tinggi.
BACA SELENGKAPNYA

Penyakit Diplomatik

Oleh Irman Syah

Jika kata-kata selalu ditajamkan untuk membenarkan diri sendiri -- apalagi penambahan ini dan itunya -- bahkan sampai pada penilaian dan cap terhadap orang lain selalu salah: tentu saja ini merupakan sikap bahasa yang tidak dapat  dibenarkan. Tak terbayangkan kalau hal semacam ini berlarut-larut dan menjalar ke segala bidang kehidupan.
BACA SELENGKAPNYA

Keracunan Komunikasi

Oleh Irman Syah

Andaikan negeri ini berada di tangan orang-orang yang mencintai bahasa tentu akan lain lagi ceritanya. Jangankan cerita, cara pegang cerutunya saja akan mampu dimaknai dengan gamblang. Cara membakar dengan memantikkan api dalam hisapannya akan bisa ditafsirkan dengan leluasa. Apakah dia sedang berada dalam keadaan marah atau senang, sakit hati, dendam ataupun tengah bersahaja.
BACA SELENGKAPNYA

Kebenaran yang Melingkar

(Catatan untuk Pemimpin)
Oleh Irman Syah

Degup nafas negeri kian terasa dalam dada. Ada debar tak terduga. Bayangan ketakutan, mimik kegelisahan, suasana dan raut kerisauan atau sorak sorai dan derita kini saling bersebelahan dalam perjalanan kehidupan. Dan manusia, berada dalam barisan berbaris yang berbondong-bondong dan mengumpat ke mana suka ketika sebuah peristiwa tercipta begitu saja di depan mata mereka.
BACA SELENGKAPNYA

Puisi, Musikalisasi, dan Ruang Puitik

Oleh Irman Syah *)

Abstraksi:
Membicarakan proses penggarapan muskalisasi puisi sebagai usaha kreatif atas perpanjangan lidah penyair melalui penafsiran karya adalah juga merupakan salah satu tahapan apresiasi sastra yang bermanfaat. Pengucapan puisi berdasarkan komposisi nada yang mengakar pada pilihan kata (diksi) puisi tentunya memiliki daya tawar yang kuat mempercepat laju komunikasi makna dengan sentuhan nadanya khas.
BACA SELENGKAPNYA

Peluncuran Album Sastra Kalimalang

KETIKA KATA MENJADI KITA
:Jangan Biarkan Ibu Pertiwi Menangis  (‘!’)

Oleh Irman Syah *)

Sastra Kalimalang:
Ketika segala sesuatu sulit untuk diucapkan secara nyata, karena bisa menyinggung personal dan kelompok manusia, maka sastralah yang mampu membahasakannya dengan gamblang dan tertata. Persoalan bahasa dan hakikat makna inilah yang menjadikannya sungai yang mengalir dalam jiwa. Dalam kelembutan ucapan, dalam pemaknaan tafsiran, semua terungkap jadi pertanda, jadi pelita, jadi penerang kenyataan kehidupan.
BACA SELENGKAPNYA

Jangan Biarkan Ibu Pertiwi Menangis (‘!’) .

(Album Sastra Kalimalang Akustik)
Oleh Irman Syah

“Hidup telah mengajarkan jalannya sendiri-sendiri bagi manusia.” Demikianlah petuah dan ungkapan, atau pandangan lirik di ‘rohmantik’ perihal landasan ‘estetika kehidupan’. Tentang bagaimana memposisikan sikap dalam mencipta ketepatan. Menafasi perilaku hidup manusia hari ini dalam lalu-lintas kehidupan dan segala hal lain sebagaimana mestinya. 
BACA SELENGKAPNYA

Selepas Musim Berbilang Tahun

Oleh Irman Syah

Apa yang bisa kau rangkai jika kilat dan petir sambung menyambung. Terang dan dentuman ganti berganti, muram dan gelap muncul di hati. Apa? Tentu saja tak ada selain kata. Selebihnya rasa dan pikir yang saling bersabung dan bertarung, bagai pelayaran dan lautan lepas, asin dan ombak tetap saja permainan ikan.
BACA SELENGKAPNYA

Kematian Pemuda di Siklus Zaman

Oleh Irman Syah

“Jauh panggang dari api.” Demikian barangkali kata yang tepat untuk menyatakan ungkapan terhadap pemuda, peran dan fungsinya terhadap keadaan yang terjadi saat ini. Apalagi dalam hal menyikapi kenyataan hidup masyarakat yang dihantam oleh persoalan ekonomi, politik, birokrasi, dan kebudayaan di negeri ini. 
BACA SELENGKAPNYA

Salah di Ujung, Balik ke Pangkal

Oleh Irman Syah

Jauh sudah perjalanan negeri dalam kelok liku kehidupan. Beragam pula persoalan yang tumbuh dan menggejala sehigga hidup menjadi kumpulan perasaan, pikiran dan ingatan: berurat-menjalarlah kenyataan yang memunculkan penyesalan ulah niat dan arah tujuan yang jalan bersimpangan.
BACA SELENGKAPNYA