CITRA: Identitas Budaya Bangsa
Sastra Reboan, Oase Hati Nurani yang Terus Menggeliat
Hanya
dengan slogan: Banyak Pintu Menuju Sastra, Sastra Reboan yang merupakan kiprah
Paguyuban Sastra Rabu Malam (PaSar MaLam) di Warung Apresiasi (Wapress)
Bulungan, Jakarta Selatan, bagai magnet bagi sastrawan dan masyarakat luas.
Tiap
Rabu malam pada akhir bulan, Wapress Bulungan selalu padat pengunjung. Seperti
terlihat pada Rabu ( 28/1) malam. Ketika sastrawan Malaysia peraih SEA Write
Award 1986, Dato Kemala, tampil pada acara Muhibah Sastra dan Baca Puisi,
Sastra Reboan bagai jembatan budaya Indonesia-Malaysia.
Juga
tampil baca puisi Ikranegara, penyair, dramawan dan pemain film yang sempat
tinggal delapan tahun di Amerika Serikat. Perempuan penyair Diah Hadaning dan
Kirana Kejora, tak ketinggalan pula. Pembacaan puisinya memberi warna
tersediri. Juga ada dialog pencerahan dari cerpenis Agus Noor dan Kurnia
Effendi, yang mengusung wacana fiksi mini. Cerita pendek bukan, puisi juga
bukan.
Kurnia
menilai fiksi mini sebagai absurd, seperti humor yang ada pada buku teka teki
silang. Memaksakan diri bercerita dalam satu kalimat dan atau satu alinea.
Namun Agus bersikukuh, fiksi mini ke depan akan menjadi genre tersendiri dalam
sastra. Menariknya, selain dialog sastra dan baca puisi, juga ditampilkan
anak-anak muda dengan kelompok bandnya.
Malam
itu, kelompok yang tampil adalah November band dan Tom n Roy. Sejumlah kelompok
band dari Surabaya, Serang, Bekasi, Jombang, dan Bandung, pernah tampil dan tak
dibayar. Sastra Reboan dengan slogannya ingin memperkenalkan sastra dengan
wajah yang ramah, enak disapa, mencerahkan, dan diharapkan menjadi bagian dari
lelahnya kehidupan, kata Ketua Paguyuban Sastra Rabu Malam, Johannes Sugianto.
Menurut
sejumlah pengunjung, pada Sastra Reboan, sastra ditampilkan bukan sebagai
sesuatu yang berat atau berwajah bengis, dengan keseriusan atau kesakralan yang
membuat jerih untuk mengenalnya.
Kolaborasi
sastra dan seni menjadi sajian yang menarik bagi pengunjung. Perpaduan para
sastrawan yang telah malang melintang di dunia sastra, serta mereka yang baru
belajar menulis, menjadi sesuatu yang baru dan mencerahkan bagi pengunjung,
kata penyair dan pembaca puisi kondang Irman Syah.
Jenis
kegiatan yang ditampilkan sangat beragam. Kadang juga ada pementasan teater,
gending, dan mungkin apa saja, yang bisa menjadi oase bagi pengunjung. Sastra
Reboan, sejak kehadirannya, seperti menjadi alternatif suatu pertunjukan sastra
dan seni yang menarik.
Rendra
yang sempat datang dan memberikan sambutan Rabu, 26 November 2008 lalu, setelah
membaca slogan: Banyak Pintu Menuju Sastra, yang menjadi latar panggung,
mengatakan, "Ini yang menarik perhatian saya. Ternyata puisi terus hidup
hingga sekarang," ujar penyair berjuluk si Burung Merak itu.
Mulai berkiprah sejak 30 April 2008, Sastra Reboan yang tampil dengan format campur aduk atau gado-gado itu ternyata mendapat respon yang baik dan membuatpengunjung merasa betah. Bahkan, Duta Besar Hongaria untuk Indonesia, Mihaly Illes, juga pernah datang dan menikmati acara Sastra Reboan, jelas Johannes.
MANUSIAWI
sering kebentur
jadi
lupa
jalan pulang
KARENA KAYA
malaikat, jin, setan, iblis,
pocong, kuntilanak,
kuntil bapak
siampa, bigau
datanglah
silahkan bertegur sapa
negeri ini
rawan rencana
musang berbulu ayam
LOKAL
ragu-ragu
reggae
aja
CINTA
salah pasang
!
PASAR
copet mendapat
lowbatt
ketinggalan!
SALAM
ailapyu
betmen
poreper
DIRI
pulanglah!
PEPATAH
ada ranting yang
patah
kuncup
puisi kan jadi
buah
PESAN
terlalu jauh
hilang diri
dekat
pun
masih ada
resah
JINGGA
cahaya
lintasan demi lintasan
mengabur
waktu
berkejaran
gelap menikam terang
butir makna
kandungannya
LARUT
tak sepercik darah
di jemari
di
hati
entah…?
K-BA
tak sembarang
alunan bansi
tikaman jejak
kitab
hidup
ragam hikayat
cermin hakikat
di lariknya
TITIK
bukan
aku
yang
punya!
Aku pun Do’i
DO’A
telah
kau adakan
sesuatu yang pantas ada
maka
tuntunlah jiwaku
sesuai
kehendak-Mu
amin
KEPADA GUS TF (Brewok, Ode & Media)
aku belajar batuk
:prakepulangan
untuk
pulang
yang sesungguh
Nya!
RANTAU
sepi isian lorong jiwa
kenangan perjalanan
membunga
dan
tumbuh
bertangkai-tangkai
petik nada di tulusmu
biar jemari
berbuah makna
SURAT RINDU
resah menjalar sudah
sampaikan
surat
ke jantung sukma
ARSIP
yang kau titipkan
kemungkinan apalagi
mencipta rindu
dan
mati!
SMS
semayamkan bintang
di ujung raih
tak rindu
bentangi dada..
INDONESIA ¾
kura-kura ikut berlayar
ditikamnya lambung
kapal
:sebuah sajak
buat COLOMBUS
yess!
kalau ditindik pusatnya
patent
X-lah
TEMPO
banyak
yang tertinggal
BUTTING (Bukan Bunting)
alt
del
!
BOSAN
sepanjang malam
dan melati
hanyalah parfum impian
di taman kehidupan
PEMIMPI
yang di tangan
tak
satu pun
dalam
genggaman
SANGKAR DAGING; Gus tf
rahim bumi
dan
langit!
KEPADA CHAIRIL ANWAR
empedu di telapak
meletup
ujung jari
tikaman darah
awas
jangan sampai percik
di gaun
beribu perempuan
PAREWA-PAKARENA
ini kapal siap tempur
kabut, karang dan
cuaca
tumpah di geladak
akulah nakhoda
batin Mahagala
HIJRAH
kesunyian itu menuju sunyi
berikutnya
di rongga kehidupan
embun rimbun, bintang
muncul
dan pagi
mengantarkan
berkuntum-kuntum puisi
INDONESIA
belajar
bernafas
hidup!
:bumi dan langit
merestui
KASIH
yang kuisyaratkan
biar wangi keringatmu
kutimba
sehabis-habis pagi
sehabis lelah
membunuh sepi
INDAU
kenikmatan bertabur tanda
risau bumi menerjemahkan
langit-langit dunia
yang enggan bertegur-sapa
tersebab kalbu
tak menerima
mawar api yang tertukar
19/05/03
KEPADA LUBIS
bintang
cerlang
revolusi bubur!
13/07/05
RITUAL
tulis maut dalam hidup
untuk pulang
mencinta…
Dia abadikan
masadepan
26/06/06
LAMUN
berhadapan
dan malah
bersentuhan
tapi
matamu, lain!
31/08/03
KAUSAL
itulah
rindu berkaca
pisah
dan pisah
lengkapi rindu
KEARIFAN
siapa pun
merajutnya
jadi intan
Menteng31,
2003
CIKAGO (Cikini, Kalipasir, Gondangdia)
tak laporan polisi, Lu
tak tangkap Lu, ya…
anak-anak berhamburan
“Hidup Negeriku!”
X-Pasir, 16/10/04
IDIOM
sori kece’ang beko…
“di mana ada kemauan
di situ ada jalan!”
25/06/05
GELORA
dari ujud percintaan
rindu gebubu
pada Zat
pencipta gelora
itu
sendiri!
31/08/03
K-CUNK
cak, bahasa apalagi?
hanya 1/3 lintingan
kehidupan
semua mabuk
hitung-menghitung
untung
jual-beli
tanah kuburan
Menteng31
28/03/03
BUNDA
DUNIA
pancarkan bintang
dalam impian
tak mati aliri duka
ke lembah
dan
sungai
airmata…
X-pasir, 16/10/03
SAYANG
nikmatnya cinta
takkan hati bertukar kasih
padanya
berjuta sungai mengaliri
jantung
kehidupan
02/06/03
ISTRI
HAYO
BUNGA TANJUNG
tetap kubisikkan
di relung sukmamu
gumpalan puisi kehidupan
bahwa di pelukmu
yang teduh
bermekaran bunga tanjung
penuh wangi kasih-sayang
kenikmatan
hidup
dari yang Maha-segala
SIKAP
kuterima
aku yakin
itu berarti
22/01/05
KLIP
seberani Daud, secerdas Sulaiman,
searif Ibrahim,
selengkap Muhammad
atau
setampan Yusuf
aku hanya kilau…
27/06/05
DEMI
dan kekacauan bumi
kuwarnai matahari
bulan dan bintang-bintang
dengan
samudera kata-kata
menenggelamkan benua-benua
dan pulau-pulau
menghidupkan semesta
TIM, 2003
AKU
berkelip di angkara
menyinari
semua jiwa…
2005
RoHmAnTik KREDO
sampai pada pucuk-Nya
niscaya akan berbuah Petuah, Tamsil-ibarat,
Ungkapan,
Pepatah, Petatah-petitih…
atau
PATAH
dan
PITIH!
‘Kekaisaran’ Seni Senen Hidup Kembali
Revitalisasi Panet Senen sebagai Markas Seniman
Sastra, Planet Senen, dan Potret Buram Bangsa
Sastra Urban dan Problem Manusia Urban
Awalnya, saya beranggapan sastrawan adalah seorang linguis yang cermat. Sebab, merekalah yang mampu menguraikan pikiran ke dalam analisis bunyi, sintaksis, dan pragmatis.Sastrawan juga dibebani tanggung jawab sosial dan sejarah yang tidak ringan. Sebab, melalui karya dan totalitas kediriannya, sastrawan adalah arsitektur kemanusiaan.
SAMPAI KAPAN PUN
Gumpalan puisi
Kehidupan
Bahwa di pelukmu yang teduh
Bermekaran bunga tanjung
Penuh wangi kasih sayang
Kenikmatan hidup dari yang MahaSegala
Agustus, 2003
Irman yah: Ketika Ex-Patriat Membaca Puisi
Komunitas Planet Senen Kenang Chairil Anwar
SASTRA INDONESIA:“SEBUAH SAMPIRAN TANPA ISI, FRASE TANYA TAK KUNJUNG JAWAB..”

.jpg)





