Panggung Puisi Irman Syah 1 Jam di Bulungan

Oleh David Krisna Alka
Ketika sebuah pementasan puisi terpinggirkan oleh maraknya pertunjukkan popular di televisi yang menggelinjang akhir-akhir ini. Irman Syah melakukan pelisanan puisi-puisinya dengan sederhana tanpa ruah. Cukup dengan kursi dan meja bundar sebagai properti yang menunggu letih ingin turut di apresisasi oleh sang penyair. Tetapi, Irman Syah masih saja tetap duduk asyik dengan mengeluarkan bunyi bansi, kemudian berkata-kata.
spacer

Irman Syah dan Puluhan Seniman Baca Puisi Sutardji

Acara rangkaian perayaan ulang tahun ke-66 Sutardji di antaranya menghadirkan Diah Handaning, Zawawi Imron, dan Ahmadun Yosi Herfanda. Juga beberapa komunitas seni seperti Sanggar Matahari dan Saung Pangulinan yang bergerak di musikalisasi puisi, serta Majelis Komunitas Budaya dan Nusantara yang berkedudukan di Riau.
spacer

Irman Syah - Lesbumi Gelar Pentas Puisi untuk “Ibu”


Jakarta, NU Online Lembaga Seniman dan Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU mempersembahkan pementasan dan bedah puisi di Hari Ibu, 22 Desember. Acara ini bertema “Maha Ladang Cinta” yang merupakan salah satu bagian dalam antologi puisi Hj. Masriyah Amva "Ketika Aku Gila Cinta”.

Panggung puisi ibu akan digelar di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Selasa (23/12) pukul 19.00 WIB disutradarai oleh M. Dienaldo. Sejumlah seniman akan tampil, antara lain Dewi Yull, Sultan Saladin, Epi Kusnandar, Andi Bersama, Irman Syah, dan Hartati.
spacer

Irman Syah dalam Peringatan Wafatnya Chairil Anwar

Jakarta, Sinar Harapan - “Makam Chairil sekarang lebih terawat. Makamnya kini lebih tua dari rentang usianya. Terlebih lagi semangat berkarya Chairil menjadi inspirasi bagi generasi setelahnya,” kata Ipur Wangsa, satu dari enam sastrawan yang pada pagi harinya sempat menziarahi makam penyair yang wafat pada 28 April 1949.
spacer

Irman Syah - Komunitas Planet Senen Gelar Taman Puisi

JAKARTA, KOMPAS.com — Komunitas Planet Senen, Senin (25/5) pukul 19.00, menggelar acara diskusi dan baca puisi bertajuk "Taman Puisi" di Plaza Taman, Patung Tekad Merdeka, depan Stasiun Senen. Sebuah pentas dan dialog mengangkat ‘Puisi sebagai Cerminan Budi Bahasa’ akan dipaparkan oleh Irman Syah.
spacer

Irman Syah - KOMPI DKI

Kelompok musikalisasi puisi Indonesia dari Manado, Bogor, DKI Jakarta, Minggu (17/1) di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jalan Cikini Raya 73, Jakarta menampilkan komposisi musik yang enak didengar sejumlah kalangan. Koordinator Komunitas Musikalisasi Puisi Indonesia (Kompi) DKI Jakarta Irman Syah mengatakan, pentas bareng kelompok musikalisasi puisi ini merupakan bentuk silaturahim kunjungan Kompi Manado dalam tajuk ”Tour Karya”. Grup musik reggae Local Ambience juga akan tampil. Menurut Irman Syah, pertunjukan musikalisasi puisi dari Manado, Bogor, dan Jakarta ini diharapkan menambah bahan apresiasi bagi pelajar sekolah yang sengaja diundang. Pertunjukan gratis ini juga menghadirkan penyair nasional. (NAL/Langkan Kompas)
spacer

Puisi dan Realitas yang Puitik


Oleh: Irman Syah



Awalan:
Sesungguhnya jauh lebih puitik kenyatan hidup di negeri ini bila dibandingkan
dengan makna puisi yang diciptakan.
Apabila mampu lahir puisi, maka adalah benar bangsa kita kukuh dan masih
mengagungkan bahasa, nilai, dan akal budi..

Adalah sebuah kenyataan, puisi itu mengada dan terus ditulis! Begitu banyak yang menulis dan mengungkap serta menyebutkan kata dalam hal membilang-bilang kenyataan. Pembilang dan penyebut tentulah suatu yang matematis dengan keadilan pembagiannya: sebuah bagian kehidupan yang dikristalkan ke dalam kata, kalimat, alinea, lewat diksi, larik dan bait, rasa dan pikir, kenyataan dan impian yang terus mengelana ke ujungnya.
spacer

Meneropong Panorama Budaya Indonesia


Dibacakan pada Ultah ke-1 Pakri
Oleh Irman Syah


Mengingat nama Indonesia, tentu kita tak pernah mengingat,kenapa Indonesia menjadi sebuah nama bagi bangsa dalam pengertian nation is state's. Kalau itu yang kita alami, tentunya, kita tak pernah mengingat apa yang akan disebut dengan Budaya Indonesia. Bagaimana pula kita akan meneropong kebudayaan Indonesia. Sementara, sebutan Indonesia sebagai bangsa, baru resmi pada tanggal 17 Agustus 1945.
spacer

Kuseberangkan Selalu

kuseberangkan terus rindu padamu, tak habis-habis..
musim kemarau berganti paceklik, gurun di dadaku
bawalah kamp-kamp pengungsi dari jiwa yang lelah atau rasa
takut dan malas karena merasa diri telah berguna, bawalah..
spacer

Catatan Merah-putih



belajarlah mengurut dada
Sayangku..
bukan karena masuk angin
melainkan bagaimana kesunyian
menghadapi kesiapan rasa kehilangan
yang sering bertegur sapa
di jantung kita..
spacer

Seratus Puisi untuk Seratus Tahun Budi Utomo

 


Tumpah darah nusa India/Dalam hatiku selalu mulia/
Dijunjung tinggi atas kepala/Semenjak diri lahir ke bumi/
Sampai bercerai badan dan nyawa/
Karena kita sedarah sebangsa Bertanah air di Indonesia

Inilah “Indonesia Tumpah Darahku” karya Muhammad Yamin (1903-1962) yang tergabung dalam Antologi Seratus Puisi Bangkitlah Raga Negeriku! Bangkitlah Jiwa Bangsaku! yang diluncurkan di Warung Apresiasi Bulungan, Jakarta Selatan (20/5).

Seratus puisi disusun oleh Ibnu Wahyudi, Chavchay Syaifullah, Liyus Oktarina, Sukemi dan Viddy AD Daery. Buku yang disiapkan dalam tempo dua minggu diterbitkan oleh Depkominfo dalam rangka menyambut 100 Tahun Kebangkitan Nasional ini akan disebarkan secara cuma-cuma kepada masyarakat luas sebagai bahan refleksi atas perjalanan 100 Tahun Budi Utomo.

Dalam buku itu, ada karya Sutomo (1888-1938), Mas Marco Kartodikromo (1890-1932), Roestam Effendi (1903-1979), Sanoesi Pane (1905-1968), Sanoesi Pane (1908-1970), Sutan Takdir Alisjahbana (1908-1994) hingga penyair yang masih aktif antara lain Taufik Ismail (1937), Eka Budianta (1956), Afrizal Malna (1957), Saut Situmorang (1966), Gola Gong (1963), Joko Pinurbo (1962), Arie MP Tamba (1961), Mustafa Ismail (1971), Akhmad Sekhu (1973), DC Aryadi (1976), dan Firman Venayaksa (1980).

“Puisi di dalam antologi, ada manis dan pahitnya, semoga puisi ini bisa jadi jamu atau obat yang senantiasa menyembuhkan dalam Momen Kebangkitan Bangsa ini,” ujar Viddy. Menurut Chavchay, penyusunan puisi ini diharapkan menjadi sebuah pintu inspirasi nasionalisme di bangsa ini. Dengan begitu, keseratus puisi ini bisa mengantar setiap pembaca dan mendorongnya untuk semangat bersama sebagai pelaku sejarah ke-Indonesia-an secara beradab.

“Bagaimanapun, membaca terus sejarah kebangsaan secara beradab, adil dan terbuka sama saja ikut membangun negeri ini secara jujur dan ikhlas,” papar Chavchay. Di tengah suguhan teh dan kopi, sajian penganan dan makanan tampillah penyair Ibnu PS Megananda, Amin Kamil, Ahmadun Yosi Herfanda, Herdi Sahrasad, Asrizal Nur dan Irman Syah. Ada juga sajian lagu dari Teater Kecebong, termasuk kemasan musik dari Marjinal, yang riuh dan sempat membuat penonton meriah dengan jingkraknya.

Ada penyair Sutardji Calzoum Bachri yang sengaja membaca tanpa energi, dengan harapan pembacaan “tak berenergi” ini, penyair dan penonton dapat lebih menerjemahkan bagaimana kata bermuka-muka dengan sejarah Indonesia dan bangsa ini.

Menurut Tardji, kesadaran sejarah perlu lebih dulu dipahami, baru sikap berbangsa kita. Membaca sejarah akan mengobarkan perasaan kebangkitan nasional bangsa kita. “Selain itu, terasa juga bahwa kebangkitan derita lebih banyak daripada kebangkitan pencapaian. Karena itu saya akan membaca tanpa power,” paparnya.

Chavchay juga membawakan orasi budayanya. Menurutnya, 100 tahun lalu, 20 Mei 1908, terbentuk Budi Utomo yang didirikan Soetomo, satu kebudayaan yang menginspirasi tatanan sosial dan politik yang melahirkan perlawanan intelektual untuk satu visi dan misi terhadap kolonialisme.

“Seberapa banyak kaum kecil menghancurkan kaum besar, dengan izin Allah. Belanda yang kecil menghancurkan kelompok besar, 1908 adalah refleksi sejarah atas kemenangan wacana kebudayaan oleh gerakan budaya lewat moralitas dan hati nurani. Sekarang kita serukan petinggi kita untuk atasi krisis, kuat iman dan pengetahuan, sebagai bangsa yang besar,” katanya, berapi-api.

Menkominfo M Nuh, selain membacakan orasi, juga memotong tumpeng di tengah warung santai berteman teh, kopi, suguhan penganan dan makanan itu.

“Wacana kebangsaan satu nusa dan satu bangsa yang abstrak belum real, baru pada tahun 1945 dideklarasikan dan diproklamasikan barulah dibentuk Indonesia, apa dasar dan bagaimana Undang-Undang Dasarnya. Yang kita rasakan sekarang dengan segala kelebihan dan kekurangan, 100 tahun yang lalu dan 100 tahun ke depan, kekuatan kawan budayawan dan seniman adalah menuangkan gagasan dan ide itu tapi dapat mendorong segala kegiatan kebangsaan,” tuturnya.

M Nuh juga mengatakan bahwa dia pada malam itu ingin membaca seperti Sutardji di mana kekuatan bukan pada pembacaan dan ekspresi, tapi pada puisinya. Jadi, ujarnya, kalau bacanya kurang bagus anggaplah sebagai aliran yang berbeda.

(Sumber:Sihar Ramses Simatupang-sinarharapan.co.id)

spacer

Popular Posts