Chairil Anwar dalam Kenangan

spacer

Bangkit


Oleh Irman Syah

Ada semacam spirit yang tak terhalangi di dalam diri, kadang muncul sendiri dari lubuk hati: Bangkitlah Bangsaku! Begitulah. Kalau pun dilanjutkan, tentulah Bangsa Indonesia hari ini telah terpuruk dan terbenam dalam sebuah lembah tak bernama. Atau bisa juga hanyut dalam mimpi panjang yang menakutkan. Oleh sebab itu, sudah diwajibkan bagi bangsa ini untuk bangkit dan bangun dari tidur yang menyesatkan. Hal ini amat diperlukan tersebab suasana kebangsaan saat ini memang tengah meradang.
spacer

Pidato Sastra Sutardji C Bachri: Indonesia Lahir dari Puisi



Indonesia lahir dari puisi. Teks Sumpah Pemuda yang dicetuskan pada 1928 adalah puisi, yang berisi tentang imajinasi Indonesia yang satu. Pernyataan ini disampaikan penyair Sutardji Calzoum Bachri dalam pidato sastra mengenang Chairil Anwar di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Kamis (23/5) malam.
spacer

 


Indonesia lahir dari puisi. Teks Sumpah Pemuda yang dicetuskan pada 1928 adalah puisi, yang berisi tentang imajinasi Indonesia yang satu.

Pernyataan ini disampaikan penyair Sutardji Calzoum Bachri dalam pidato sastra mengenang Chairil Anwar di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Kamis (23/5) malam.

"Ketika para pemuda itu mencetuskan Sumpah Pemuda, Indonesia belum ada, masih dalam bentuk imajinasi. Dalam puisi, imajinasi adalah hal utama. Bangsa ini lahir dari pusi," kata Sutardji, penyair yang mendapat julukan "Presiden Penyair Indonesia."

Sutardji dalam pidato sastranya secara khusus menyanpaikan kepenyair Chairil Anwar. Sebagai tokoh penting sastra modern Indonesia. "Chairil adalah penyair pesanan, yaitu penyair yang dipesan oleh zamannya," lanjut Sutardji, penyair kelahiran rengat Riau.

Chairil Anwar yang lahir di Medan pada 1922 dan meninggal dunia dalam usia 27 tahun, menurut Sutardji adalah pahlawan puisi Indonesia. "Dia menjadi pahlawan dan dikenal karena puisi dan kepenyairannya. Bukan dikenal sebagai tokoh-tokoh lain di luar sebagai penyair," kata Sutardji seolah menyindir.

Acara "Mengenang Chairil Anwar" selain diisi dengan pidato sastra juga pembacaan puisi dan musikalisasi puisi karya Chairil Anwar oleh penyair Irman Syah, Hanna Fransisca, Fathin Hamamah, Leon Agusta, Joserizal Manua, Deavies Sanggar Matahari, dan Lab Musik.  Di hari yang sama juga digelar diskusi tentang Chairil bersama pembicara Nur Zen Hae dan Adi Wicaksono.

Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Irawan Karseno mengatakan lembaganya akan menggelar secara rutin membincangkan karya-karya sastrawan Indonesia baik yang sudah almarhum maupun yang masih hidup. "Kita ingin mengakrabkan kembali puisi dengan publik," kata Irawan Karseno.

(Sumber:https://www.jendelasastra.com/berita/pidato-sastra-sutardji-c-bachri-indonesia-lahir-dari-puisi?page=1%2C0%2C2%2C5)

spacer

Kepala

Oleh Irman Syah

Dalam kenyataan keseharian, entah kenapa, setiap kita menemukan ragam manusia berbondong-bondong bergerak, melangkah dan menyuarakan sesuatu dengan pikirannya yang sempit. Menilai dan menuduh manusia lain dengan caranya sendiri tanpa mempertimbangkan banyak hal yang semestinya  diteliti atau ditelusuri dulu lebih jauh. Maka, wajar saja kita melihat parade-parade kepala yang kian menonjolkan dirinya sendiri sebagai sesuatu dan satu-satunya yang mesti dipandang benar.
spacer

Sekolah Pinggir Kali



Oleh Irman Syah


Setelah 4 kali sukses mengapungkan panggung di Kalimalang lewat program ‘Panggug terapung’ yang mengundang Seniman dan para tokoh yang konsern di bidangnya menghadiri event kebudayaan yang dihiasi dengan musikalisasi puisi, teater, pantun, pencak silat, tari topeng, seni rupa dan pameran foto, kali  ini Sastra Kalimalang akan meujudkan sebuah gagasan baru yang desebut dengan Sekolah Pinggir Kali.
spacer

Apa yang Jadi


apa pun ucapan laku keseharianmu
saat bangga memamerkan bahasa 
melalui bibir yang seksi tentulah dunia
hidup dengan segala tipu-dayanya
spacer

Ibu



Oleh Irman Syah

Tak banyak yang bisa diungkapkan sebagai kata yang menjadi, karena semuanya akan selalu bermuara ke sana: kepada ibu yang selalu setia menerima anaknya apa adanya, menjalin keluh-kesah menjadi benang kehidupan yang tak bisa disepelekan. Dialah tempat berpulangnya segala resah, tempat semayamnya jiwa yang gelisah bagi segenap impian dan harapan insan yang bernama manusia.
spacer

Grafiti Toilet



entah kenapa dalam pikirannya coretan itu 
tak pernah hilang, tak pernah terbuang, meski telah
ia usahakan dengan banyak cara: ia jadi hilang akal
timbullah keinginannya untuk melaporkan hal itu
kepada pimpinan fakultas:
“Pak saya tak bisa menghilangkan pikiran tentang
apa yang tertulis di toilet itu…”
spacer